Minggu, 20 Oktober 2013
Pukul 20.00 WIB Pengajian Ustadz Thoifur pun tetap dilaksanakan meskipun jamnya telat karena beliau sedang ada kepentingan kala itu. Seperti adat biasanya, setelah berdoa beliau menyuruh beberapa santri untuk membaca kitab yang telah dimaknai minggu lalu. Namun diluar dugaan, beliau langsung memaknai kitab Tanwirul Qulubnya.
"Ya sudah, saya langsung maknai saja lanjutan yang kemarin karena sudah telat jamnya", ujar beliau.
Di tengah-tengah pelajaran, beliau sempat menceritakan tentang kompetisi angin. Kami pun penasaran.
"Kalian sudah pernah dengar cerita tentang kompetisi angin yang ingin menjatuhkan monyet dari pohonnya?"
"Belum pak. Ayo pak, ayo pak cerita!", sahut kami dengan antusias.
"Lho, saya kira sudah. Baiklah saya akan ceritakan.
Ada sebuah kompetisi angin yang ingin menjatuhkan monyet dari pohon. Peserta angin tersebut adalah Tornado, Lesus dan Gunung. Peserta pertama dimulai dari Tornado. Kekuatannya sangat dahsyat membuat pohon terombang - ambing agar monyet itu jatuh. Si monyet pun tak mau kalah. Dia dekap erat pohon itu saat Tornado berusaha mengombang-ambingkannya. Tapi apa yang terjadi? Tornado pun gagal melewati kompetisi ini. Si monyet pun tersenyum lega karena dia berhasil bertahan di pohon itu. Dilanjutkan peserta kedua yaitu Lesus. Dengan kekuatannya yang sama seperti puting beliung, dia berusaha meliung-liungkan pohon agar bisa menjatuhkan monyet. Namun dia pun gagal. Si Monyet pun tak kalah cerdiknya. Senyumnya semakin menjadi. Kemudian giliran Gunung pun tiba sebagai peserta terakhir.
"Buat apa kamu ikut?? Kami berdua saja tidak bisa menjatuhkan si monyet, apalagi kamu."
"Izinkan saya untuk mengikuti kompetisi ini"
"Tidak usah. Kekuatan apa yang kamu miliki? kami yang lebih darimu saja tidak bisa mengalahkannya. Sudahlah mundur saja", jawab mereka penuh kesal.
Angin Gunung tak menggubrisnya. Dia tetap maju untuk mengikuti kompetisi ini. Mulailah Gunung meniupkan angin sepoinya. Monyet pun tertawa,"Kamu gak akan pernah bisa menjatuhkanku." Namun Gunung pun tak peduli. Dia tetap meniupkan angin sepoinya kepada monyet yang sedang tiduran di pohon. Lama-lama si monyet mulai menikmati anginnya. Tiba-tiba......
"Bruuugggggghh!!!" si monyet akhirnya terjatuh dan kompetisi angin ini dimenangkan oleh Gunung.
"Nah, apa yang dapat kita pelajari dari cerita ini? Bahwa ketika kita mendapatkan ujian dan cobaan yang kuat, dengan mudahnya kita mendekat dan mengingat kepada Allah. Namun ketika mendapatkan nikmat sedikit saja, manusia terlena akan kenikmatan itu dan menjauh dari Allah. Maka dari itu, selalu ingat dan dekatlah kepada Allah dikala susah maupun senang", pesan Ustadz Thoifur yang telah disampaikan pada para santri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar